Disarankan untuk membuka blog ini dengan GOOGLE CHROME agar fungsi-fungsi yang ada berjalan dengan baik...Makasih
Ω seLamAT daTang di bLoGq yG gaK seBeraPA ini... Ω
seMogA menDApaT seDikIt iLmU daRi sinI...^_^

Halaman


kAteGori

Sabtu, 10 Oktober 2009

Syeh Maulana Malik Ibrahim


Syeh Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. Sebenarnya, jauh sebelum kedatangan beliau di Gresik sudah ada masyarakat islam walaupun jumlahnya tidak seberapa. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatiman binti Maimun bin Hibatallah yang wafat pada tahun 475 Hijriyah atau 1082 M.
Syeh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 adalah seorang ahli tata negara yang ulung. Inskripsi yang terdapat pada batu nisan beliau menunjukkan hal itu. Huruf-huruf pada batu nisan itu adalah huruf Arab. Terjemahannya kurang lebih demikian:
“Inilah makam almarhum almaghfur yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para Pangeran, sendi para Sultan dan para Menteri, penolong para fakir dan miskin yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama. Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kake Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat-Nya dan keridlaan-Nya dan dimasukkan ke dalam Surga. Telah wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal tahun 822 H.”
Agama dan adat istiadat lama tidak langsung ditentang dengan frontal dan penuh kekerasan, melainkan beliau perkenalkan kemuliaan dan ketinggian akhlak yang diajarkan oleh agama Islam. Beliau langsung memberi contoh sendiri dalam bermasyarakat, tutur bahasanya sopan, lemah lembut, santun pada fakir miskin, hormat pada yang lebih tua dan menyayangi kaum muda.
Dengan cara itu ternyata sedikit demi sedikit banyak juga rakyat Jawa yang mulai tertarik pada agama Islam dan pada akhirnya mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.
Pada masa itu kerajaan terbesar di Pulau Jawa adalah kerajaan Majapahit. Tapi sesungguhnya kerajaan itu sudah keropos baik dari dalam maupun dari luar. Terutama saat ditinggalkan oleh Pati Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk. Majapahit dilanda perang saudara yang tidak ada habis-habisnya dan rakyat jelata menjadi korban. Sementara kerajaan-kerajaan lain yang dahulu ditundukkan oleh Gajah Mada sudah banyak yang memisahkan diri.
Kesetiaan para pembesar dan para adipati mulai menipis, banyak upeti kerajaan yang tidak sampai ke tangan raja, melainkan bertumpuk di kediaman para pembesar dan para adipati. Kejahatan melanda dimana-mana, banyak perampok dan pencuri. Bahkan banyak pula satuan prajurit yang melepaskan diri dan beralih menjadi gerombolan perampok, menggarong harta para penduduk dan rakyat jelata.
Pada suatu hari ada gerombolan perampok menyerang rumah penduduk dan kebetulan salah seorang murid Kake Bantal mengetahuinya dan dia langsung menolong penduduk desa untuk melawan perampok tersebut. Para penduduk desa bertempur melawan anak buah si pemimpin, sedang murid Kake Bantal menghadapi pemimpin perampok tersebut. Setelah pertempuran yang lama, akhirnya pemimpin rampok itu terjungkal ke tanah dengan nafas kembang kempis. Wajah perampok itu tampak merah padam pertanda marah. Dia berusaha bangkit berdiri namun tenaganya sudah lemah, mulutnya mengeluarkan darah segar.
Murid Kake Bantal kemudian menyuruh perampok itu untuk meninggalkan desa tersebut, namun diluar dugaan, tiba-tiba pemimpin perampok itu membuang ludahnya ke wajah murid Kake Bantal. Murud Kake Bantal tak sempat mengelak, ludah itupun menempel ke wajahnya, seketika itu murid Kake Bantal menjadi marah, sapasang tangannya terkepal makin erat. Melihat kemarahan murid Kake Bantal, seketika wajah pemimpin perampok itu menjadi pucat pasi. Tapi sungguh aneh, tiba-tiba murud Kake Bantal mengurungkan serangannya. Dia bangkit tanpa menggelar sikap siaga. Wajahnya yang tadi merah padam, sekarang pulih kembali seperti sedia kala. Kemudian dia membersihkan ludah dari wajahnya. Pemimpin perampok itu menjadi bingung dan akhirnya Murid Kake Bantal menjelaskan alasan mengapa ia mengurungkan niatnya, ternyata alasannya karena agama Islam melarang umatnya untuk menghukum orang dalam keadaan marah. Mendengar hal itu, pemimpin rampok itu tercenung dan tiba-tiba berusaha bangkit kembali. Tapi karena tubuhnya yang masih lemah, dia segera roboh lagi. Cepat-cepat murid Kake Bantal segera menyambarnya.
Sementara itu pertempuran antara penduduk desa dengan para perampok masih berlangsung. Tiba-tiba terdengar bentakan yang membuat semua orang terkejut dan menghentikan pertempuran. Ternyata bentakan itu berasal dari pemimpin rampok yang berdiri disamping murid Kake Bantal. Pemimpin rampok itu kemudian mengajak anak buahnya untuk hidup secara baik-baik bersama masyarakat. Namun beberapa rakyat masih merasa geram dan menendang dan memukuli perampok yang duduk bersimpuh di tanah tanpa memegang senjata. Kemudian murid Kake Bantal segera membentak penduduk desa itu dan menyuruh mereka untuk tidak menyerang orang yang sudah menyerahkan diri.
Demikianlah salah satu contoh ajaran da’wah yang dilaksanakan Kake Bantal dan murid-muridnya. Mereka sangat toleran terhadap kepentingan pribadi, patuh terhadap perintah agama dan teguh dalam menjauhi kemungkaran. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa islam datang ke Indonesia ini adalah dengan jalan damai. Tidak seperti agama nasrani yang datang ke Nusantara bersamaan dengan kaum penjajah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar